Pengalaman Iman

Mewartakan Injil, sebuah keharusan 

P. FX. Sadono Agung Widodo, SX

Celakalah aku, jika aku tidak mewartakan Injil ” (1 Kor 9 :16).

Kedalam Tanganmu kuserahkan hidupku

Seruan Santo Paulus ini menggambarkan penting dan mendesaknya selalu karya pewartaan Injil. Kabar Gembira Kerajaan Allah menanti selalu mereka yang dikuasainya untuk dibagikan kepada mereka yang belum mendengarnya. Itu semua supaya setiap orang bisa merasakan dan menghayati segenap kekayaan dan kemampuannya untuk membuat hidup manusia menjadi penuh makna dan berarti.

Hasrat inilah yang kiranya tinggal dan menghidupi selalu para Xaverian di manapun mereka berada, termasuk mereka yang tinggal di satu komunitas yang bukan komunitas pastoral tetapi sebuah komunitas, boleh dikatakan, akademik. Satu komunitas yang mempersiapkan para penerus cita-cita Santo Conforti secara linguistik atau akademik sebelum terjun langsung dalam karya untuk menjadikan satu dunia dalam satu keluarga Yesus-Kristus. Pengalaman tinggal dan hidup dalam komunitas yang demikianlah yang akan dibagikan dalam uraian berikut.

 

Nogent sur Marne, kota tempat tinggal para Xaverian

Kusiap berkarya

Di sebelah Timur kota Paris, tepatnya 11 km dari ibukota negara Perancis tersebut terdapat kota Nogent sur Marne. Kota dengan jumlah penduduk 31.279 jiwa ini terletak di pinggiran Sungai Marne, anak Sungai Seine yang terpanjang (514 Km) yang menjadi saksi bisu dua pertempuran yang tak terlupakan di awal dan di akhir Perang Dunia I (1914-1918). Pertempuran tersebut terjadi terutama di daerah hulu sungai, di desa-desa dan di kota-kota yang dekat dengan perbatasan Perancis-Jerman. Kota tempat para Xaverian tinggal berada lebih dekat dengan bagian hilir dari Sungai Marne. Walaupun pertempuran itu tidak terjadi persis di Nogent sur Marne, tetapi mobilisasi umum untuk mempertahankan kedaulatan negara waktu itu juga dijawab oleh para penduduk. Buktinya, di dalam gereja paroki kota ini, yang santo pelindungnya adalah Saturninus, tepatnya 2-3 meter di sebelah kanan pintu masuk utama, di atas batu marmer yang ditanam di dinding gereja tersurat nama- nama penduduk Nogent yang tewas di dalam dua peperangan tersebut di atas.

Letaknya yang tidak terlalu jauh dari Paris menjadikan Nogent salah satu kota pilihan untuk tempat tinggal. Transportasi yang mudah dan lancar, terutama dengan kereta api listrik bawah tanah (RER), menjadi salah satu tolok ukur bagi orang-orang Perancis maupun pendatang yang bekerja di ibukota dan berpenghasilan lebih dari cukup dalam menjatuhkan pilihan mereka untuk tempat bernaung. Sejak tahun 1994, para Xaverian menempati sebuah rumah di Jalan Beauté No. 4 yang sebelumnya adalah tempat tinggal para romo dari Kongregasi Santo Paulus.

Paroki Santo Saturninus, Gereja umat Allah di Nogent sur Marne

 Awal mula berkembangnya benih Injil di Nogent sur Marne sulit untuk diperkirakan secara persis. Sejarah mencatat bahwa sejak abad VI masehi sebuah kapel Gallo-Roman dibangun atas prakarsa Raja Dagobert I (602-639) di atas tanah tempat berdirinya gereja paroki yang sekarang. Namun, pada tahun 861 kapel tersebut dihancurkan. Fakta ini mengandaikan bahwa benih kristiani sudah tersemaikan di Nogent sejak dibangunnya kapel pertama atau bisa jadi jauh sebelumnya. Yang jelas adalah gereja Santo Saturninus saat ini adalah warisan dan penyempurnaan dari bangunan yang dibangun awal abad XII masehi. Saat itu juga dibangun, menara lonceng (le clocher) yang oleh Pemerintah Perancis dikategorikan sebagai warisan sejarah dan cagar budaya sejak tahun 1862. Bentuk dan arsitektur gereja paroki yang bisa kita lihat saat ini adalah hasil renovasi di tahun 1850-an dan di awal abad XX masehi. Renovasi yang terakhir ini membuahkan pintu masuk utama (la façade) dengan segala pernik-perniknya.

 

Berkunjung keorang sakit

Karya pewartaan Kabar Gembira Kerajaan Allah di Paroki Santo Saturninus bertumpu pada dua pilar utama yaitu : 1) pembangunan serta pendalaman hidup kristiani (dimensi koinonia dan liturgia) ; 2) aktivitas kelompok/organisasi katolik ataupun kategorial dan solidaritas dengan mereka yang membutuhkan (dimensi diakonia dan martiria). Dalam dimensi koinonia dan liturgia, kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk membantu umat kristiani dalam pertumbuhan iman dan perkembangan hidup menggereja adalah hampir sama seperti yang dijumpai di sebuah paroki di Indonesia. Di Paroki Santo Saturninus, terdapat juga katekese atau pelajaran agama bagi mereka yang akan menerima sakramen-sakramen seperti : baptis, komuni pertama, krisma dan perkawinan. Ada juga pendampingan para orangtua yang ingin mempermandikan bayi atau anak mereka. Selain itu, ada juga sejenis sekolah minggu yang dalam bahasa Perancis namanya l’éveil à la foi. Inti dari kegiatan ini adalah mendampingi anak-anak usia 4-7 tahun dalam proses perjumpaan dan perkenalan awal mereka dengan Yesus melalui iman Gereja. Jadi, l’éveil à la foi adalah semacam persemaian iman di awal keberadaan mereka sebagai manusia kristiani. Hal menarik lainnya masih adalah pendampingan keluarga-keluarga yang berduka karena salah satu anggotanya meninggal dunia. Ini dilakukan manakala anggota keluarga yang meninggal dunia menghendaki supaya upacara pemakamannya diawali dengan perayaan ekaristi. Seringkali dijumpai bahwa tidak semua anggota keluarga masih menghayati iman kristiani. Maka, satu tim terdiri dari beberapa awam dan (kalau ada) seorang romo atau diakon permanen berusaha menemani keluarga yang berduka untuk menghidupi saat-saat penuh duka karena kematian dalam terang iman serta untuk mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan perayaan ekaristi dengan jenazah di gereja. Terutama dalam pertemuan dengan keluarga yang berduka, diusahakan selalu terjaga penghormatan terhadap kebebasan setiap orang, karena kadang refleksi tentang hidup dan kematian dalam terang iman kristiani tidak selalu mendapat tanggapan positif di tengah masyarakat yang semakin sekular dan materialis di negara maju seperti Perancis.

Komunitas di Kamerun

Dalam dimensi diakonia dan martiria yang berusaha dihidupi Gereja umat Allah di Nogent, dua hal menarik yang patut disimak adalah kerasulan orang sakit dan aksi-aksi sosial kemanusiaan yang berkaitan erat dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat katolik. Berkaitan dengan kerasulan orang sakit, satu grup terdiri dari kaum awam berinisiatif untuk mengunjungi orang-orang sakit baik warga paroki maupun non warga paroki di rumah-rumah sakit, klinik-klinik perawatan, di rumah-rumah jompo. Selain menjenguk mereka yang sakit, ibu dan bapak yang tergabung dalam karya kerasulan ini juga bersama dengan Romo kepala paroki atau atas sepengetahuan dan seizin Romo kepala paroki menerimakan tubuh Kristus kepada si sakit. Sehubungan dengan karya-karya sosial-kemanusiaan, setidaknya ada tiga lembaga swadaya masyarakat katolik yang lingkup kerjanya mencakup negara-negara miskin di Asia, Amerika Latin dan Afrika, mereka itu adalah : 1) Secours Catholique (bagian tak terpisahkan dari Karitas internasional) ; 2) CCFD (Comité Catholique contre la Faim et pour le Développement), dalam bahasa Indonesia Komite Katolik melawan Kelaparan dan untuk Perkembangan ; 3) Conférence de saint Vincent de Paul, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Konferensi Santo Vincentius a Paulo (unit parokial dari Societé de saint Vincent de Paul atau Serikat Santo Paulus a Paulo dalam bahasa Indonesia). Serikat yang satu ini didirikan oleh Frederic Ozanam pada tahun 1833 untuk membantu mereka yang miskin dan hidup seorang diri dan kesepian. Paroki senantiasa mengorganisasi kolekte spesial untuk tiga kelompok kategorial ini pada saat-saat yang sudah disepakati bersama antara pihak paroki dan umat paroki yang mewakili masing-masing kelompok karya kemanusiaan ini.

Meskipun tidak langsung terlibat dalam karya pewartaan Kabar Gembira Kerajaan Allah di paroki tersebut di atas, para Xaverian berusaha semampunya menjadi partner kerja yang baik bagi para romo projo yang menjadi gembala umat Allah di Paroki Santo Saturninus, Nogent sur Marne. Pertama-tama, kalau para romo dari paroki meminta kesediaan para Xaverian untuk merayakan misa hari Minggu. Tawaran tersebut biasanya selalu dijawab secara positif. Entah itu perayaan ekaristi di gereja paroki atau di dua kapel paroki (Bunda Maria Val dan Santa Anna), para putra Santo Conforti selalu siap bila diminta. Tahun ini, ada Romo Louis Birabaluge SX yang berasal dari Republik Demokratik Kongo, yang sedang kuliah S-2 Teologi Dogmatik dan Fondamental di Institut Katolik Paris, yang beberapa kali ikut serta dalam kegiatan Komite Katolik melawan Kelaparan dan untuk Perkembangan.

Tiga hal yang menjadi halangan keterlibatan langsung para Xaverian di paroki. Pertama, para romo yang tinggal di komunitas Xaverian di Nogent, mereka di sini untuk belajar bahasa Perancis yang harus mereka kuasai sebelum bermisi di negara-negara berbahasa Perancis di benua Afrika (Burundi, Kamerun, Republik Demokratik Kongo dan Tchad). Jadi hari-hari biasa adalah hari-hari kuliah bahasa. Hanya hari Sabtu atau Minggu ada waktu luang. Karena baru belajar untuk menguasai bahasa Perancis, mereka tentu saja tidak bisa melibatkan diri secara langsung dalam karya kerasulan Gereja di Nogent. Setelah satu tahun kursus bahasa Perancis, baru tiga bulan berikutnya para Xaverian tinggal di paroki-paroki tak jauh dari Nogent untuk praktek langsung berbahasa Perancis sebagai imam dan untuk mengenal dan terlibat dalam karya kerasulan di paroki-paroki tempat mereka ditempatkan. Kedua, perkuliahan program S 2 atau S 3 dan tuntutan-tuntutannya yang sungguh menyita waktu dan menuntut konsentrasi penuh menjadi juga kendala bagi peran-serta langsung demi karya pewartaan Kabar Gembira dan pembangunan komunitas gerejawi di Paroki Santo Saturninus, Nogent. Ketiga, seperti kita ketahui bersama dengan berkurangnya jumlah panggilan imamat, Gereja-Gereja di Barat sangat memberi tempat bagi peran-serta kaum awam dalam hidup menggereja baik dalam pembinaan dan pendalaman iman maupun dalam karya cinta kasih serta solidaritas. Karena para Xaverian yang tinggal di Nogent menetap hanya untuk jangka waktu tertentu, tanggung-jawab yang diambil tentu saja juga hanya dapat dipenuhi dalam periode waktu tertentu pula. Sementara itu, ketika satu tanggung-jawab dipercayakan kepada seorang konfrater romo, ada risiko kalau awam yang sebetulnya bisa memikul tanggung-jawab tersebut bisa memasrahkan seluruh karya kerasulan kepada romo. Akhirnya ketika, si romo yang bersangkutan selesai tugas belajarnya dan harus berangkat menuju ke tanah misi, ada kemungkinan Romo paroki akan kesulitan untuk mendapatkan satu atau dua awam yang dapat menerima tanggung-jawab karya kerasulan yang ditinggalkan.

Sebenarnya memang tidak seharusnya demikian logikanya dalam sebuah karya kerasulan. Tapi, peran para imam dalam Gereja umat Allah di Perancis sepertinya adalah sebagai animator, motivator dan koordinator. Peran yang demikian kiranya membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi kaum awam untuk tampil sebagai ujung tombak dalam karya pewartaan Kabar Gembira.

Keyakinan dan Pertanyaan

 

Dalam keyakinan dan kepercayaan kuserahkan hidupku

Walaupun kesannya jadi petasan yang tidak meletus, para penerus kharisma Santo Conforti di Nogent, tidaklah menjadi misionaris yang melempem. Kehadiran dan seringkali sharing pengalaman para konfratres yang sebelumnya aktif di medan pewartaan di tanah misi dan yang sekarang tinggal untuk sekolah lagi tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi umat katolik di Nogent sur Marne. Tentu saja umat yang sedikit banyak mengenal para Xaverian, yaitu mereka yang sering hadir setiap Senin sore dan Kamis sore manakala misa harian komunitas terbuka untuk siapa saja yang berminat, bisa merasakan hasrat yang berkobar dalam tiap Xaverian untuk melaksanakan perintah Yesus dan meyakini selalu janji-Nya : “ Karena itu pergilah, jadikalanlah semua bangsa murid-Ku, baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman ” (Mat 28 :19-20).

Keyakinan semacam ini tentu saja tidak lantas membuat para Xaverian di Nogent sur Marne berpuas diri. Satu pertanyaan besar kiranya masih jadi pekerjaan rumah bagi mereka yaitu : bagaimana atau dengan cara apa, para penerus kharisma Santo Conforti bisa menularkan semangat dan hasrat mewartakan Injil kepada mereka yang belum mengenalnya kepada Gereja Nogent ? Singkat kata, para Xaverian di sini masih mencari formula yang tepat sambil terus melakukan apa yang harusnya mereka lakukan, yaitu persiapan linguistik atau akademik demi pelayanan di tanah misi, sembari mencari cara agar umat Allah di Nogent, dan kalau bisa di Keuskupan Créteil, bisa terinsipirasi oleh semangat perutusan yang sama demi makin dikenalnya dan dicintai Tuhan kita, Yesus-Kristus.