Refleksi Sang Pendiri

ENIGMA SALIB HINGGA MISI AD GENTES

Sebuah Refleksi Tentang Semagat Santo Guido Maria Conforti

Oleh Wandi.sx

 

ENIGMA WAJAH SANG TERSALIB

Yesus Kristus yang Tersalib berperan penting dalam perjalanan panggilan St. Guido Maria Conforti. Wajah yang ia temukan di palang penghinaan itu menyimpan misteri yang luar biasa tentang keselamatan umat manusia. Wajah itu memang tertunduk pasrah. Ia ditinggikan dari bumi dan hanya bergeming melihat perbuatan manusia terhadap-Nya. Bagai Anak Domba yang dibawa ke tempat pembantaian, Ia pun menyerahkan diri seutuh-utuhnya. Tubuh dipenuhi balutan luka, seolah-olah Ia telah kalah.

Tapi lihatlah! Di dalam derita itu Yesus memainkan peran. Cambuk dosa akibat ulah manusia diterima-Nya untuk satu tujuan mulia; supaya bumi penuh dengan kerahiman-Nya yang akan menyebar luas ke seluruh jagat. Semua prosesi yang tampaknya berakhir di atas kayu salib itu malah membuka jalan keselamatan bagi manusia menuju kehidupan kekal yang tiada akhirnya. Ketidaktaatan Adam yang membawa semua orang pada belenggu dosa digantikan oleh ketaatan Kristus yang menuntun semua orang pada kebenaran sejati. Sebab ketika Ia ditinggikan dari bumi, Ia akan menarik semua orang datang kepada-Nya (Bdk. Yoh. 12:32) dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

St. Conforti menangkap semua pesan itu. “Aku memandang Ia dan Ia memandang aku, dan terasa Ia mengatakan banyak hal kepadaku”. Enigma wajah Kristus yang dialaminya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saja. Akan tetapi, terdapat satu hal yang sungguh mutlak dari pengalaman itu, yakni berkobarnya hasrat misi dalam diri St. Conforti untuk segera mewartakan Kabar Gembira Kerajaan Allah kepada orang-orang bukan Kristen (Bdk. Konstitusi No. 2). Cita-cita itu sungguh luhur, tunggal dan khas. Itulah finalitas misi ad gentesyang mungkin sudah bergejolak di dalam hati kecilnya sejak pertama kali bertemu dengan Kristus yang tersalib di Gereja Damai.

MISI AD GENTES: DUNIA SATU KELUARGA

Desakan kasih Kristus sangat kuat di dalam diri St. Conforti dan menghantarnya pada satu cita-cita, yakni menjadikan dunia ini sebagai satu keluarga dalam Kerajaan Allah. Rencananya yang berani untuk merealisasikan karya pewartaan itu pun tertuang nyata dalam keluarga Misionaris Xaverian. Tidak hanya meneruskan karya agung St. Fransiskus Xaverius untuk bermisi ke Cina, tetapi lebih dahsyat lagi misi ad gentesitu terpancar dan meluas hingga menjangkau seluruh dunia.

Akan tetapi, cita-cita itu bukanlah pekerjaan yang gampang. Bagaimana mungkin menyatukan sekian miliar isi otak di bawah satu atap? Bukankah itu mimpi yang terlalu optimis sehingga imajinasi pun tak sanggup untuk menampungnya? Pertanyaan-pertanyaan serupa sering muncul sebagai perwujudan sikap pesimis.

Tetapi, St. Conforti berkata, “Untuk menjadi misionaris diperlukan entusiasme energi dan kemurahan hati. Untuk melakukan karya misioner yang efektif diperlukan kemampuan untuk menarik hati orang dengan daya tarik kebaikan dan cinta kasih Kristus, bukan dengan kekuatan senjata.” Di dalam kutipan ini, tersirat semangat misioner St. Conforti yang sangat optimis untuk menembus pluralisme dengan sikap kekeluargaan dan cinta kasih. Ia juga menegaskan bahwa seorang misionaris perlu mengobarkan keinginannya untuk memajukan Kerajaan Allah. Ia harus mempunyai semangat  iman yang hidup untuk melihat, mencari, dan mencintai Allah di dalam segala-galanya (Surat Wasiat NO. 10).

Yesus sudah pernah memberikan misi yang sama kepada para murid. Sebelum terangkat ke surga, Ia memberikan perutusan agung ini, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk!”  (Mar. 16:15). Pesan perutusan itu sama optimisnya dengan semangat yang diwariskan St. Conforti kepada para misionarisnya. Menjadikan dunia sebagai satu keluarga merupakan angan-angan yang berakar pada tatapan Sang Tersalib yang penuh belas kasih dan yang senantiasa bersukacita dalam harapan akan buah-buah Injil, yakni terbentuknya sebuah keluarga tunggal yang mencakup seluruh bangsa manusia.

Satu hal lain yang penting untuk disadari adalah semua orang sama dalam hal kemanusiaan dan sama-sama mendiami bumi ini.  Hal tersebut mau tidak mau menarik setiap orang ke dalam relasi satu dengan yang lain. Hanya saja, terdapat kecenderungan untuk melupakan identitas tersebut dan lebih memilih untuk mengurung diri dalam egoisme yang akut. Perang, pembantaian, tindak kekerasan, ketidakadilan dan berbagai macam penderitaan muncul akibat ketidakacuhan manusia pada sesama. Dan di sinilah semangat St. Conforti hadir sebagai penegasan ulang tentang identitas manusia itu. Sekat pembatas mesti ditiadakan dan dunia ini adalah tempat peziarahan sementara bagi kita menuju Kerajaan Allah yang abadi.

SELARAS DENGAN BHINNEKA TUNGGAL IKA

Bumi pertiwi turut merasakan cipratan semangat misi St. Conforti. Di negeri kepulauan ini, Allah berkarya dan membuka jalan bagi Misionaris Xaverian. Pada tahun 1951, Indonesia menjadi salah satu negara misi bagi anak-anak St. Conforti. Kejadian pahit di Cina ternyata melahirkan berkah melimpah bagi karya pewartaan Kerajaan Allah.

Indonesia tentu mempunyai keistimewaan. Negara yang terbentuk dari gugusan pulau-pulau ini telah mendeklarasikan dirinya sebagai negara kesatuan yang berdaulat dan merdeka. Ribuan pulau dari Sabang sampai Papua pun turut memberikan ciri khas Indonesia, yaitu pluralitas kehidupan bangsanya. Akan tetapi, semboyan negara ini menjadi pemersatu yang sangat kuat. Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu. Itulah jargon yang telah ditanamkan dalam diri bangsa ini.

Tak disangka-sangka, ternyata semangat bermisi St. Conforti dapat dipadukan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Bukankah semangat menjadikan dunia satu keluarga dapat tercapai ketika perbedaan dipandang sebagai rahmat untuk persatuan? Itulah sebabnya semboyan negeri ini selaras dengan semangat St. Conforti. Hal ini bukanlah satu kebetulan tetapi berkat Allah yang patut disyukuri. Pilihan untuk berpegang pada semboyan bangsa ini mesti tetap dipertahankan sebagai pintu masuk ke dalam kompleksitas sosial masyarakat Indonesia. Alasannya, Bhinneka Tunggal Ika adalah identitas Indonesia yang sekaligus mengatur dinamika kehidupan bangsanya.

Dengan demikian, “berbeda-beda tetapi tetap satu” jangan dianggap sebagai bualan belaka karena hal itu telah terwujud nyata dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Memang, tantangan untuk persatuan pasti akan selalu ada dan hadir sebagai realitas lain yang tidak dapat dipungkiri. Tetapi, justru di saat seperti itulah komitmen untuk hidup dalam persaudaraan sejati diuji. Lagi pula, sebuah keluarga akan selalu bersatu meskipun berbagai macam badai datang menghampirinya.

Jadi, ketika perpaduan di antara dua semangat itu terwujud, kiranya muncul siklus mutualisme yang baik bagi karya pewartaan Misionaris Xaverian. Putra Indonesia yang memilih untuk mengikuti jejak St. Conforti sebagai misionaris bagi dunia harusnya lebih mudah menerima perbedaan yang ada di mana pun ia berkarya. Ketika ia bertemu dengan yang lain di tanah misi, ia tidak akan ketakutan tetapi siap untuk menjalin persaudaraan dengan mereka sebagai satu keluarga.

Pada akhirnya, keselarasan semangat menjadikan dunia satu keluargadengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika merupakan peluang besar untuk meraih cita-cita suci St. Conforti, yakni pewartaan Kabar Gembira Kerajaan Allahdi tengah-tengah mereka yang bukan Kristen. Dengan cara itu, sebuah keluarga tunggal yang mencakup seluruh bangsa manusia dapat dibangun di atas kasih Kristus yang Tersalib.