BURUNDI

BURUNDI
Para misionaris pertama, di Burundi tiba pada tahun 1879. Dalam kurun waktu 130 tahun itu, Gereja diperkaya dengan berkembangnya kelompok imam pribumi. Kehadiran mereka hamper mencukupi untuk pemeliharaan rohani komunitas setempat. Panggilan hidup bakti, baik pria maupun wanita, terus meningkat.
Para xaverian tiba di Burundi pada tahun 1964. Mereka mengalami segala gejolak politik yang tak habis-habisnya dan menyaksikan bagaimana umat Katolik serta imam mati secara mengenaskan. Walaupun menghadapi saat-saat yang menegangkan, mereka tetap berada di tengah umat.
Hal ini dipilih demi solidaritas dan keprihatinan pastoral, sejalan dengan karisma misionaris yang menuntut persatuan hidup dan nasib dengan orang-orang, kepada siapa mereka telah diutus, dengan ikut mengalami segala masalah dan perjuangan mereka menuju pembebasan (Konstitusi no.14). Demi kesetiaan kepada panggilan mereka, dua orang Xaverian beserta awam, rekan karya missioner mereka, menemua kemartiran: P. Ottorino Maule, sx, P. Aldo Marchiol,sx, dan seorang awam Katina Gubert.
Kini para Xaverian bekerjasama dengan warga dan Gereja Burundi. Mereka menyebarkan semangat rekonsiliasi, persaudaraan dan persatuan, menggiatkan semangat missioner kepada komunitas Kristiani dengan membentuk pelaksana-pelaksana pastoral dan memberikan perhatian khusus kepada kaum muda.
Gereja Burundi sudah mulai berbagi kekayaan iman dan semangat kekatolikannya dengan orang-orang dibelahan dunia lainnya. Sejak tahun 2005 beberapa anak muda Burundi mempersiapkan diri untuk menjadi misionaris menurut karisma Xaverian.