JEPANG

JEPANG

Pada tahun 1549, Santo FransiskusXaverius – disusul misionaris lain – mulai menaburkan Injil dan mengembangkan sebuah Gereja yang hidup. Pada tahun 1612, sejumlah orang berimanmencapai 650.000 jiwa. Tetapi pada tahun 1614, iman Katolik dilarang dan mulailah penganiayaan yang ganas terhadap umat katolik.

250 tahun kemudian, pada tanggal 17 Maret 1865, sebuah kelompok orang Jepang di Nagasaki menemui misionaris Bernard Petitjean. Mereka menyatakan bahwa iman Katolik telah mereka wariskan secara turun- temurun dari bapak kepada anaknya, walaupun mengalami penganiayaan. Setelah kejadian itu, pemerintah Jepang menghapus ketetapan tentang penganiayaan pada tahun 1873. Sejak saat itu, evangelisasi dapat dimulai kembali.

Beberapa Xaverian yang diusir dari Cina tiba di Jepang pada akhir tahun 1949. Jepang tampaknya membuka banyak harapan untuk evangelisasi. Kehadiran mereka ikut mendukung pertumbuhan Gereja Jepang dengan mendirikan tak kurang dari 24 gereja baru dan 20 taman kanak-kanak. Dewasa ini mereka melaksanakan pewaetaan pertama melalui berbagai kegiatan: pastoral paroki, pengajaran di universitas dan sekolah menengah, pembukaan taman kanak-kanak untuk menyampaikan Injil kepada ribuan keluarga non-Katolik, dialog antar agama dan antar budaya, berbagai skegiatan sosial untuk mendekatkan diri dengan orang-orang yang paling lemah dan termajinalkan dari masyarakat.

Itu semua demi menjadigaram, terang dan ragi berkarakter Injili di dalam masyarakat dan kebudayaan sebuah bangsa yang tengah mencari, agar dapat berjumpa dengan Kristus pada waktu dan dengan cara yang selaras dengan kehendak Penyelenggaraan Ilahi.