Karya Pastoral Paroki

Karya pastoral paroki

Daerah kedua yang digarap oleh para Xaverian adalah Riau. Mula-mula mereka berkarya di Kepulauan Riau (Bengkalis, Selat Panjang, Bagansiapi-api). Barulah pada tahun 1952 mereka menetap di Pekanbaru, yang waktu itu tidak lebih dari sebuah kampung. Pada tahun enam puluhan Misionaris Xaverian berada pula di Air Molek dan Rengat (Indragiri). Komunitas katolik di daerah ini terdiri dari kaum pendatang dan bersifat majemuk. Mereka adalah dari suku Cina, Jawa dan Batak. Dalam tahun delapan puluhan mulailah gelombang transmigrasi ke Riau, baik yang diprakarsai oleh pemerintah, maupun transmigrasi spontan dari Sumatra Utara. Dalam dasarwarsa ketujuh ini karya para Xaverian sudah menghasilkan umat yang dewasa dan mandiri. Para Xaverian yang berkarya di Pekanbaru, Duri, Dumai harus melayani juga komunitas-komunitas kristiani di misalnya di Pulau Rupat, Kepulauan Riau.

Barangkali terobosan terbesar yang dilakukan para Xaverian di kawasan ini adalah karya di Kepulauan Mentawai. Kepulauan ini terletak  sekitar 120 km di sebelah barat Sumatra dan belum pernah dijamah oleh misionaris Katolik mana pun. Para Xaverian mulai berkarya di sana pada tahun 1954. Mereka menghadapi masyarakat yang masih terbelakang dengan segala segi kehidupannya. Penduduk setempat pada umumnya hidup sebagai nelayan kecil dan pola pikirrnya sangat sederhana. Para Xaverian memusatkan karya dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan keagamaan.

Dalam bidang pendidikan para Xaverianlah yang membuka sekolah-sekolah di kampung-kampung dan merintis penyiapan kader-kader pendidik dengan asrama-asrama. Para Xaverian juga menggalang kerjasama dengan pemerintah, ketika pemerintah membuka SD-SD Inpres di sana. Alhasil, sudah terdapat puluhan guru asli dari Mentawai.

Di bidang kesehatan, para Xaverian mendapat bantuan dari suster-suster A.L.I. (Ausiliarie Laiche Internazionali) yang membuka poliklinik-poliklinik. Kini mereka ini juga sudah menjelajahi pedalaman kampung Mentawai, khususnya di Pulau Siberut, untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada para ibu, sambil terus menjalankan proyek-proyek panduan kesehatan.

Usaha dalam bidang sosial belum membuahkanhasil yang didambakan. Namun demikian, para Xaverian tetap berusaha agar umat Mentawai  bisa lebih mandiri. Sudah menjadi kebiasaan mereka bahwa ibadat hari Minggu diselenggarakan dan dipimpin oleh umat sendiri. Kitab Suci, buku-buku lagu dan ibadat maupun katekismus diterjemahkan oleh para imam Xaverian dalam bahasa Mentawai.

Pada tahun 1975 Uskup Agung Medan, Mgr. van den Hurk, meminta bantuan Xaverian untuk melayani umat di Sumatra Utara bagian timur. Di kawasan ini tersebar luas umat katolik suku Batak yang berasal dari Samosir. Di wilayah Keuskupan Agung Medan, para Xaverian memegang paroki di Kisaran, Tanjung Balai dan Aek Nabara. Tugas pastoral mereka lakukan dengan mengunjungi stasi-stasi, yang jumlahnya sekitar 100 buah, dengan khusus dalam hal pendalaman iman, mempersiapkan kader-kader melalui kursus-kursus dan melakukan inisiatif-inisiatif sosial, melalui Credit Union (CU) untuk mengatasi kesulitan ekonomi yang dihadapkan oleh para transmigran lokal.

Tahap paling penting selanjutnya adalah di Keuskupan Padang, yakni berlangsungnya  peralihan dari Uskup Xaverian orang asing kepada uskup pribumiMgr. Martinus D Situmorang OFM Cap, yang merupakan salah satu unsur dasar sebagai Gereja lokal yang mandiri. Hal itu terjadi tanggal 14 April 1983 dengan SK dari Bapa Suci Yohanes Paulus II. Tahap ini juga disiapkan dengan sepenuh hati oleh misionaris Xaverian.

Di pihak lain, adanyapermohonan baru dari Mgr. Anicetus B. Sinaga OFM Cap (waktu itu masih sebagai Uskup Sibolga) kepada Xaverian pada 1981, maka tugasdan karya para Xaverian di Sumatra kian bertambah luas.Para Xaverian diminta untuk melayani Pulau Nias. Para Xaverian memusatkan karya mereka dalam usaha memperdalam iman umat, mengupayakan pelbagai usaha dibidang sosial dan pendidikan. Mereka dihadapkan pada tantangan yang tidak kecil, karena jumlah stasi Katolik di Nias tidak kurang dari 650 buah. Namun, sejak tahun 2001, Pulau ini diserahkan kembali kepada keuskupan karena sudah dianggap cukup dewasa dan mandiri.

Sebelumnya, perluasan karya Xaverian dari Pulau Sumatra ke Pulau Jawa terjadi sekitar tahun 1970. Pada tahun itu para Xaverian memulai karya di Jakarta. Tujuan semula sebenarnya hanya membuka prokur misi di sana, tetapi Uskup Agung Jakarta (pada waktu itu Mgr Leo Soekoto SJ) dapat memberikan izin jika memegang satu paroki. Mulailah karya di paroki Toasebio (Jakarta Kota) disusul dengan pembentukan paroki Pluit, pelayanan paroki Pademangan, dan pembentukan paroki Bintaro.

Dewasa ini di wilayah Keuskupan Agung Jakarta,  Xaverian hanya berkarya di dua paroki saja; yakni Bintaro dan Toasebio. Di sekitar paroki Bintaro, Xaverian juga mengupayakan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi kaum lemah lewat Poliklinik Matius 25.

Di Paroki Bintaro juga telah dikembangkan program animasi panggilan melalui kelompok CSC (Come & See Club) bagi remaja/kaum muda yang ingin menjadi biarawan/biarawati.  Sehubungan dengan pelayanan di bidanginstitusi pendidikan sekolah katolik di KAJ, melalui Paroki Toasebio dan Bintaro, Xaverian membina dan mendampingi kepengurusan Yayasan Ricci I dan Ricci II.

Sejak sekitar 4 tahun lalu, Xaverian mendukung dan menganimasi terbentuknya Paguyuban Awam Xaverian (PAX) yang bertemu sekali sebulan di Novisiat Bintaro.